Mis-Konsepsi Cikal Bakal Salah Paham

Otak kita dianugrahi oleh Sang Pencipta dengan kemampuan berpikir luar biasa, menganalisa dan mampu mengambil mana pola yang (mungkin) tepat sesuai pengalaman pemiliknya. Namun otak kita ini masih harus terus di latih (diberi pengalaman) agar semua informasi yang kita dapat bisa disusun berdasarkan kronologis dan pola yang sesuai nilai kebenaran.

Adakalanya juga ketika kita tidak dapat mensinkronkan atau menghubungkan semua informasi yang didapat, pada akhirnya dihubung-hubungkan dengan pengalaman yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kronologis keilmiahannya pada akhirnya kita jatuh pada jurang mitos yang tidak masuk akal.

Otak kita ini akan terus berkembang hingga sudah selesai masanya. Sebelum kita mencapai manula, otak kita akan mengumpulkan banyak ingatan atau memori jangka panjang yang mungkin didalamnya dibumbui oleh ingatan orang lain melalui cerita masa lalu.

Layaknya sebuah memori usang, otak ini mungkin hanya dapat membaca saja (read only) dan tidak bisa mengolah atau bahkan memperbaharuinya setelah masa dewasa selesai. Sudah banyak contoh orang tua, kakek dan nenek yang mulai merasakan lupa bahkan pikun padahal informasi yang didapat hanya berjarak beberapa menit artinya read only pun menjadi lebih kaku karena tahap analisis berkurang.

Lebih beratnya lagi, keusangan memori bukanlah satu-satunya masalah (ini hanyalah masalah kecil karena) masih ada masalah yang lain yakni kekurangan pengalaman dan menafsirkan diri sebagai patokan nilai dari sebuah proses berpikir yang tertuang pada hal layak umum (orang kebanyakan)

Salah Paham merupakan puncaknya. Puncak dari ego sentris dan kefatalan proses nalar yang menganggap hanya ini (hanya dalil ini) yang tepat. Sedangkan yang lain sudah salah berdasarkan nilai kaku miliknya yang telah tersirat dalam hati.

Kronologi atau mengikuti urutan adalah pemecahan terbaik dalam menyelesaikan perkara. Menggabungkan semua informasi baik dari oranglain dan miliknya adalah proses merunut konsep yang seharusnya dilakukan secara halus dan tetap berpegang kepada kesabaran yang menitik beratkan pada kebesaran ilahi/ nilai ketuhanan.

Mis-konsepsi sering terjadi karena kita hanya melihat satu sudut pandang yakni berdasarkan kacamata sendiri (ego). Ego ini dibesarkan dari sudut pandang yang kurang tepat karena memandang orang lain TOk salah dan tidak bisa diganggu gugat.

Mis-konsepsi juga terlahir dari didikan dan aturan serta pemahaman yang kabur yang terus di ajarkan baik secara sadar ataupun tidak sadar, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Layaknya keluarga yang percaya akan mistis secara berlebihan maka anak-anak yang terlahir pada keluarga tersebutpun dominan kalau tidak takut ya manggut (mengiyakan saja kejadian yang menurutnya diluar nalar dan menganggapnya sebagai bagian dari ulah mahluk astral).

Ini berbahaya, karena kita mengiyakan sesuatu yang belum benar keilmiahan dan nilai kebenarannya. Ini akan menjadi bola salju yang terus menggelinding dan membesar hingga menimpa siapa saja yang didekatnya.

Oleh karena itu mis-konsepsi ini harus dihentikan karena dapat menularkan kesalahpahaman yang terulang dan tidak akan berhenti.

Comments

Popular posts from this blog

Grup Telegram Youtuber Terbaru dan Komunitas Youtuber Terbesar

Grup Whatsapp dan Telegram Blogger